Sabtu, 19 Juni 2010
TETAP BERSAMA KOMUNITAS KAUM MUSLIMIN DAN MENGIKUTI SALAFUS SALEH
Jumat, 04 Juni 2010
HAK RASULULLAH SAW ATAS UMATNYA
Minggu, 30 Mei 2010
SIFAT-SIFAT AKHLAK RASULULLAH SAW
Jumat, 21 Mei 2010
SIFAT-SIFAT FISIK RASULULLAH SAW
Rabu, 19 Mei 2010
MUKJIZAT-MUKJIZAT RASULULLAH SAW
[17:88] Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (Al-Isra: 88)
[54:1] Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. [54:2] Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mu'jizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus". (Al-Qamar: 1-2)
Minggu, 16 Mei 2010
KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN RASULULLAH SAW
Diantaranya keadaan beliau sebagai penutup para nabi dan rasul. Maka tidak ada lagi nabi dan rasul sesudahnya. Beliau telah bersabda: “Aku adalah Muhammad, nabi yang ummi, tidak ada lagi nabi sesudahku. Aku diberikan jawami’ al-kalim dan puncak-puncaknya.” (HR. Ahmad (2/172) dari hadis Abdullah bin Amru bin al-Ash ra)
Di antara keistimewaannya, beliau lebih mulia dari para nabi, rasul dan makhluk seluruhnya. Dari Abu Sa’id al-Khudhri ra, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat, dan aku tidak sombong, dan di tanganku paji pujian, akupun tidak bangga. Pada hari itu tak ada seorang nabi pun –Adam dan selainnya – kecuali di bawah benderaku. Dan aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan dari kuburnya, aku juga tidak bangga.” (HR. Turmudzi (3148,3615) dan ia berkata; “hadis ini hasan shahih). Dalam satu riwayat: “Aku adalah orang yang paling mulia di antara orang-orang terdahulu dan belakangan bagi Allah, aku ucapkan ini tanpa keangkuhan.” (HR. Turmudzi (3616) dari hadis Ibn Abbas ra).
Di antara keistimewaannya, keumuman risalah beliau kepada bangsa jin, manusia, Arab, dan Ajam (non-Arab). Dari Jabir ra: “Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku diberikan lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun sebelumku: Aku dimenangkan dengan rasa takut (pada musuh-musuhku) dari jarak satu bulan perjalanan, dijadikan tanah bagiku sebagai tempat sujud dan alat bersuci, maka dimanapun seseorang dari umatku memasuki waktu shalat, hendaklah ia shalat. Dihalalkan bagiku harta ghanimah (rampasan perang), padahal harta ghanimah itu tidak dihalalkan bagi siapapun sebelumku, diberikan kepadaku syafa’at, dan adalah nabi diutus khusus hanya kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari (328) dan Muslim (521) dari hadis Jabir ra)
Di antara keistimewaannya, Allah SWT menjadikan umatnya sebagai umat terbaik dan menasakh (menghapus) seluruh syariat dengan syariatnya. Allah SWT berfirman:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (Ali Imran: 110)
Allah SWT berfirman:
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (At-Taubah: 33)
Dan Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)
Rasulullah Saw bersabda: “Tidak seorang pun dari umat ini (generasi ini), baik Yahudi maupun Nashrani yang mana telah mendengar seruanku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang kubawa, melainkan ia menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim (153) dari hadis Abu Hurairah).
Kamis, 13 Mei 2010
ORANGTUA DAN MOYANG RASULULLAH SAW SELURUHNYA BERTAUHID
ANAK DAN ISTRI RASULULLAH SAW
Rabu, 12 Mei 2010
NASAB RASULULLAH SAW
MENGENAL RASULULLAH SAW
Sabtu, 08 Mei 2010
KEPASTIAN ADANYA DZAT ALLAH SWT
[88:17] Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. [88:18] Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? [88:19] Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? [88:20] Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (Al-Ghasyiah: 17-20)
[36:37] Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.[36:38] dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. [36:39] Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. [36:40] Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. 36:41] Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan. [36:42] dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. [36:43] Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan. [36:44] Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika. (Yaasin: 37-44)
Sungguh anehnya, bagaimana bisa Tuhan didurhakai,
Atau bagamana bisa orang yang ingkar mengingkari
sedang pada segala sesuatu terkandung bukti,
yang menunjukkan bahwa Dia adalah Maha Esa
dan bagi Allah pada setiap gerak maupun diam
terdapat tanda pengaruh yang menjadi saksi-Nya
Salah seorang dari mereka pernah ditanya tentang bukti adanya Allah SWT lalu ia menjawab, "Jejak unta menunjukkan adanya unta dan bekas kaki menunjukkan adanya yang berjalan. Maka langit yang memiliki gugusan, bumi yang memiliki lekukan dan lautan yang memiliki gelombang menunjukkan adanya Pencipta yang Maha Mengetahui, yaitu Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa."
Imam Abu Hanifah rahimahullah pernah berkata kepada sekelompok kaum Ad-Dahriyah: "Apakah bisa diterima menurut akal sebuah kapal bermuatan penuh berada dalam gelombang lautan, terombang-ambing oleh ombak yang menggulung-gulung dan angin yang bermacam ragam, namun kendati demikian ia tetap berjalan lurus tanpa ada nakhkoda yang mengemudikannya?" Mereka menjawab, "Tidak." Lalu beliau berkata, "Jika yang demikian itu tidak bisa diterima, lalu bagaimana mungkin alam ini ada, dari alam yang paling tinggi dan yang paling bawah, dengan beragam keadaan, tanpa ada penciptanya?"
Jumat, 07 Mei 2010
SIAPA MENGENAL DIRINYA DIA MENGENAL TUHANNYA
Kamis, 06 Mei 2010
SIFAT-SIFAT TUHAN (ILAAH) YANG DISEMBAH DENGAN SEBENARNYA
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Melihat. (As-Syuura: 11)
Maha Suci Allah dari yang menyerupai dan yang menandingi, dari sekutu dan pembantu. Dia tidak dibatasi masa, tidak sibuk oleh satu keadaan dari keadaan yang lain, tidak dilingkupi arah dan tidak bercampur dengan yang baharu. Dia Maha kaya mutlak dari segala sesuatu, dari segala arah, dan segala sesuatu selain-Nya butuh kepada-Nya. Dia menciptakan makhluk dan perbuatan-perbuatan mereka, menetapkan rezeki dan ajal mereka, menjadikan mati dan hidup, taat dan maksiat, sehat dan sakit. Dia menurunkan kitab-kitab dan mengutus rasul-rasul untuk memberi petunjuk kepada makhluk karena sayang kepada mereka. Dia menjanjikan orang-orang yang berbuat baik dengan pahala-Nya sebagai suatu karunia dan mengancam orang-orang yang berbuat dosa dengan siksaan-Nya sebagai suatu keadilan. Maka Tuhan yang disembah dengan sebenarnya adalah Tuhan yang menghimpun sifat-sifat ini. Allah SWT berfirman:
[59:22]Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [59:23] Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. [59:24] Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Hasyr : 22-24)
Rabu, 05 Mei 2010
HAK ALLAH SWT ATAS HAMBA-HAMBA-NYA
Senin, 03 Mei 2010
MENGENAL ALLAH SWT
Sabtu, 30 Januari 2010
ALLAH KHALIQ, NABI MUHAMMAD MAKHLUQ
Padahal ini suatu kebodohan yang nyata. Lantaran Allah SWT hanya memberikan apa yang dikehendaki-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya pula, tanpa suatu kewajiban atau keharusan yang mengikat, melainkan hanya pemuliaan terhadap siapa saja yang Dia kehendaki untuk Dia muliakan, atau Dia angkat posisinya yang Dia ingin nyatakan kelebihannya dibandingkan dengan manusia lain.
Jadi, dalam hal ini tidak ada perampasan hak-hak Allah, baik dari sudut rububiyah (pencipta dan pemilik alam), maupun uluhiyah (yang berhak disembah). Atau dengan kata lain, berbagai kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki oleh para nabi itu, sama sekali tidak akan pernah mengikis rububiyah dan uluhiyah Allah SWT sebagai Pencipta Yang Maha Tinggi.
Dengan demikian, jika ada makhluk yang memiliki sedikit kesamaan dari salah satu sifat-Nya, maka sifat tersebut – sesuai dengan sifat nisbi manusia – pastilah sangat terbatas. Dan oleh sebab itu, juga dapat bermanfaat hanya dengan izin Allah dan dengan kemurahan serta kehendak-Nya.
Jadi, bukan karena makhluk itu sendiri. Lantaran semua makhluk, pada dasarnya lemah tak berdaya, serta tidak akan pernah memiliki daya dan upaya mendatangkan atau menolak, baik kemanfaatan maupun kemudaratan. Begitu pula manusia tidak akan pernah bisa menentukan kehidupan, kematian, dan kebangkitannya.
KEPADA BAGINDA NABI MUHAMMAD—ADA BANYAK HAL YANG MERUPAKAN HAK ALLAH SWT, NAMUN ALLAH LANTAS MEMBERIKANNYA KEPADA RASULULLAH SAW, DAN ATAU KEPADA PARA NABI YANG LAIN. DALAM HAL INI TIDAK BERARTI SIFAT-SIFAT ITU SEKALIGUS MENGANGKAT PARA NABI KHUSUSNYA NABI MUHAMMAD SAW PADA TINGKAT DERAJAT ULUHIYAH, ATAU MENJADIKANNYA SEKUTU ALLAH SWT.
Contohnya:
- SYAFA’AT, yang merupakan milik Allah SWT (Az-Zumar, 39:44) Namun demikian, terdapat hadis yang menyatakan bahwa syafaat juga dimiliki Rasulullah SAW dan para pemberi syafaat yang lain, yakni (artinya):
Aku diberi (memiliki) syafaat. (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Darimi, dan Ahmad).
- ILMU GHAIB, yang merupakan sesuatu yang mutlak milik Allah (An-Naml, 27:65) Namun demikian dalam hal ini Allah juga mengajarkan ilmu ghaib kepada para nabi-Nya, sebagaimana ayat (artinya):
Allah mengetahui yang ghaib, maka dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan belakangnya. (Al-Jin, 72: 26-27)
- HIDAYAH, juga sesuatu yang khusus milik Allah (Al-Qashash, 28:56) Namun pada ayat yang lain, terdapat penjelasan bahwa dalam soal petunjuk para nabi juga memiliki andil, yakni:
Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Dengan demikian, hidayah yang dimaksud pada ayat pertama tidak sama dengan hidayah pada ayat kedua. Hal ini bisa dipahami oleh orang-orang berakal sehat dari kaum yang beriman, yang mengerti perbedaan posisi Khaliq dan makhluk. Lantaran jika tidak demikian, niscaya ayat itu akan berbunyi:
Sesungguhnya engkau menunjuki dengan petunjuk irsyad saja. Atau boleh jadi akan berbunyi: Engkau memberi petunjuk dengan petunjuk yang berbeda caranya dengan cara Kami.
Namun semua itu tidak terjadi, melainkan Allah menetapkan bagi beliau kemampuan memberi petunjuk, tanpa embel-embel dan tanpa syarat, karena kaum muslimin sudah dapat memahami makna lafadznya, dan mengerti perbedaan madlul-nya (makna yang ditunjuk oleh lafadz itu) dengan memperhatikan (ketidaksamaan) apa yang disandarkan kepada Allah dan apa yang disandarkan kepada rasul-Nya.
Yang senada dengan itu --- sebagai bahan perbandingan – dapat kita lihat dalam Al-Quran yakni pernyataan sifat Rasulullah yang rauf dan rahim oleh Allah dalam ayat (bil mu’miniina rauufr rahiim).
Maka dengan demikian kita pun maklum bahwa sifat ra’fah dan rahmah (kasih sayang dan cinta) yang dimiliki Rasulullah, memang hasil pemberian Allah SWT. Dan yang pasti, tidak sama dengan sifat ra’fah dan rahmah milik Allah SWT.
Namun demikian, ketika Allah SWT mensifati nabi-Nya dengan kedua sifat tersebut, tetap tanpa keteranga dan penjelasan yang rinci. Lantaran kaum muslimin yang membaca kitab suci Al-Quran sudah dianggap maklum akan perbedaan antara khaliq dan makhluk.
Jumat, 15 Januari 2010
PUJIAN ATAS NABI MUHAMMAD SAW
ADAPUN ORANG YANG MEMUJI RASULULLAH SAW DAN MENYIFATINYA DENGAN SIFAT-SIFAT KEMANUSIAAN – DENGAN TETAP MENGAKUINYA SEBAGAI ‘ABDULLAH, HAMBA ALLAH DAN UTUSAN-NYA – JUGA MENJAUHKANNYA DARI KEYAKINAN SESAT SEBAGAIMANA DILAKUKAN KAUM NASRANI ADALAH ORANG YANG MEMPUNYAI JIWA TAUHID YANG SEMPURNA.
Biarkanlah apa yang diyakini kaum Nasrani pada Nabinya
Tetapkanlah sesukamu pujian yang layak bagi Nabimu dan teguhkanlah
Karena keutamaan Rasulullah SAW itu tidak terbatas
Tak ada lisan yang mampu mengungkapkannya
Satu hal yang pasti diketahui, ia adalah manusia
Ia adalah makhluk Allah yang paling utama dari semuanya
Bukankah Allah SWT pun telah memuji Nabi Muhammad SAW melalui firman-Nya: “Dan sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad SAW) benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (Al-Qolam, 68:4). Allah juga memerintahkan supaya umat manusia senantiasa beradab dan mengikuti tata sopan santun bersama Nabi, baik dalam berbicara maupun dalam bertanya jawab. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi.” (al-Hujurat, 49:2). Allah SWT juga melarang kita memperlakukan Nabi sebagaimana kita memperlakukan manusia biasa, dan Dia pun mencegah kita memanggilnya dengan cara sebagaimana yang berlaku di antara kita dengan ikhwan kita. Dengan tegas, Dia berfirman: “Janganlah kamu jadikan panggilan (terhadap) Rasul diantara kamu seperti sebagian kamu memanggil yang lain.” (An-Nur, 24:63). Allah SWT mencela orang-orang yang menyamakan Rasulullah dengan yang lain dalam rangka bergaul dan gaya hidup: “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.” (Al-Hujurat, 49:4).
Rasulullah SAW pun biasa dipuji dan disanjung oleh para sahabatnya yang mulia. Beliau tidak melarang mereka, apalagi menuduhnya berbuat syirik. Bahkan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah, dengan tegas, memuji dirinya sendiri. Beliau bersabda,
Aku adalah manusia terbaik di antara ashhabul yamin, kelompok yang beruntung. Aku adalah manusia terbaik di antara orang-orang yang menang dan beruntung. Dan aku adalah putra Adam yang paling bertakwa dan paling mulia di hadapan Allah. Bukan sombong. (HR. Imam Thabrani dan Al-Baihaqi dalam Dalaa-il)
Malaikat Jibril AS pun memuji Baginda Nabi Muhammad SAW, ia berkata,
Aku membolak-balikkan bumi, timur dan baratnya, tetapi aku tidak menemukan seseorang yang lebih utama daripada Muhammad SAW dan aku pun tidak melihat keturunan yang lebih utama daripada keturunan (bani) Hasyim. (HR. Al-Baihaqi, Abu Nu’aim, At-Thabrani dari Siti Aisyah ra)
Abu Sa’id mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
Aku adalah pemimpin (sayyid) keturunan Adam pada hari kiamat; bukan sombong. (HR. Imam Turmudzi; ia menilai hadis ini hasan shahih)
Itulah dalil-dalil yang menunjukkan bahwa memuji Rasulullah SAW bukan suatu bid’ah karena telah dicontohkan oleh Allah, Nabi Muhammad sendiri, juga oleh para sahabat-sahabat beliau. Dalil-dalil diatas pun sekaligus menunjukkan KITA TIDAK DILARANG MEMUJI RASULULLAH SAW, selama menyifatinya dengan sifat-sifat kemanusiaan – dengan tetap mengakuinya sebagai ‘abdullah, hamba Allah dan utusan-Nya – juga menjauhkannya dari keyakinan sesat sebagaimana dilakukan kaum Nasrani yang memuji Nabi Isa dengan mengatakan bahwa “Nabi Isa itu putra Allah”.
Dan ketahuilah! Setinggi apapun pujian kita kepada Nabi Agung Muhammad SAW sesungguhnya kita tetap tak dapat menempatkan beliau pada posisi yang tepat dikarenakan beliau adalah manusia yang martabat dan kemuliaannya di atas semua manusia. Meskipun kita umat beriman telah beroleh kehormatan menjadi pengikut Rasulullah SAW namun kita tidak dapat mengetahui setinggi apa hakikat kemuliaan dan martabat beliau SAW. Karenanya tidak ada itu yang disebut melakukan pujian berlebihan (al-‘ithraa’) atau pun melakukan suatu sikap berlebihan yang tercela (al-ghuluww al-madzmuum). Maka, pujilah Sayyidina Nabi Muhammad SAW setinggi mungkin, karena semua itu masih kurang.... Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayyidninaa Muhammad.
Rabu, 13 Januari 2010
KEISTIMEWAAN SAYIDINA MUHAMMAD SAW
Sebagian orang menyangka bahwa para nabi termasuk Nabi Muhammad SAW sama dengan manusia lain dalam berbagai hal, baik dalam keadaan – situasi dan kondisinya – maupun dalam sifat-sifatnya. Tentu saja pemahaman seperti ini merupakan suatu kesalahan besar dan kekeliruan yang nyata. Karena pandangan-pandangan keliru ini adalah milik kaum penentang para nabi. Seperti pandangan kaum Nabi Nuh as terhadapnya sebagaimana dihikayatkan dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman: “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, ‘Kami tidak melihat kamu kecuali sebagai seorang MANUSIA BIASA SPERTI KAMI’.” (Hud, 11:27). Lihat pula QS Al-Mukminun (23):47; Asy-Syu’ara (26):154; Asy-Syu’ara (26):185-186. Pandangan kaum musyrikin terhadap Nabi Muhammad SAW pun tidak kalah buruknya. Mereka hanya mengakuinya sebagai manusia biasa. Hal itu sebagaimana difirmankan Allah SWT: “Mereka berkata, ‘Mengapakah rasul ini memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar?”
Meskipun memang dalam beberapa hal sama seperti manusia lain – sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah SWT: Qul innamaa ana basyar mitslukum; Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku (Nabi/Rasul) ini hanyalah manusia (biasa) seperti kamu’ (Al-Kahfi, 18:110) – tetapi para nabi berbeda dari kebanyakan manusia biasa dalam berbagai sifat dan karakteristiknya. Dibawah ini kami sebutkan berbagai sifat dan keistimewaan mereka dibanding manusia biasa lainnya – sebagaimana diisyaratkan Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

a. Para nabi AS adalah manusia pilihan, terlebih Nabi Muhammad SAW. Mereka dipilih dan dimuliakan oleh Allah SWT dengan dijadikan-Nya sebagai nabi/rasul. Mereka juga dianugerahi hikmah dan diberi kekuatan intelektualitas serta ketajaman berpikir.. Mereka dijadikan Allah untuk menjadi penengah di antara-Nya dan makhluk-Nya. Tugas mereka adalah menyampaikan risalah dari Allah kepada makhluk-Nya, dan memperingatkan mereka dari murka dan siksa-Nya. Mereka dibebani tugas menunjuki makhluk kepada apa yang membahagiakan mereka, baik di dunia maupun di akhirat.
b. Meskipun biasa makan, minum, dan berjalan-jalan di pasar, kadang-kadang sehat dan kadang-kadang sakit, menikah bahkan ditimpa sifat-sifat kemanusiaan seperti yang dialami manusia biasa pada umumnya – seperti lemah, tua, juga kematian – para nabi terlebih Baginda Nabi Muhammad SAW mempunyai kelebihan, keistimewaan, dan sifat-sifat agung. Sifat-sifat itu merupakan suatu kelaziman bahkan termasuk hal-hal primer yang mesti mereka miliki. Adapun sifat-sifat yang melekat pada diri mereka adalah sebagai berikut: jujur (shidq), menyampaikan amanah (tabligh), terpercaya (amanah), pandai (fathanah), terbebas dari aib yang sangat jelek, yang dapat membuat manusia lari darinya (as-salam minal ‘uyub almunfirat), terpelihara dari hal-hal yang dapat mengurangi kredibilitasnya sebagai nabi/rasul (al-‘ishmah). Sifat-sifat ini tidak dapat dimiliki oleh manusia biasa kecuali melalui proses perjuangan melawan nafs.
c. Adapun Nabi Muhammad SAW beliau memiliki sifat dan karakteristik khusus diantaranya:
- Rasulullah melihat apa yang ada di belakangnya, sebagaimana sabdanya: “Apakah kamu dapat melihat kiblatku disebelah sini? Demi Allah, tidak samar atasku rukukmu dan sujudmu. Sungguh aku melihat kamu sekalian dari belakang punggungku.” (HR. Syaikhani (Bukhari dan Muslim).
- Rasulullah SAW melihat apa yang tidak kita lihat dan mendengar apa yang tidak kita dengar, sebagaimana sabda beliau, “Sesungguhnya aku (dapat) melihat apa yang tidak kamu lihat, dan mendengar apa yang tidak kamu dengar.” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu Majah)
- Ketiak Nabi yang mulia putih warnanya. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik ra yang berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya dalam berdoa sehingga terlihatlah warna putih ketiaknya.”
- Nabi Muhammad SAW terpelihara dari kebiasaan menguap. Sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkan dalam At-Tarikh dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf serta Ibnu Sa’d dari Yazid ibn Al-Asham yang mengatakan: “Nabi Muhammad SAW tidak pernah menguap sama sekali.
- Keringat Rasulullah SAW harum baunya. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas ra yang bercerita: “Rasulullah SAW pernah datang kepada kami. Beliau tidur siang di tempat kami. Ia tampak berkeringat. Lalu datanglah ibuku membawa sebuah botol. Ia berusaha menampung keringat Rasulullah. Rasulullah SAW terbangun. Ia bersabda: ‘Ya ummu Sulaim, apa yang engkau perbuat?’ Ia menjawab: ‘Keringat. Ia akan kami jadikan minyak wangi; pasti akan menjadi minyak wangi yang paling wangi’.”
- Rasulullah SAW tidak memiliki bayangan. Al-Hakim dan At-Turmudzi meriwayatkan dari Dzakwan: “Sesungguhnya Rasulullah SAW itu tidak ada bayangannya, baik dari sinar matahari maupun bulan.” Bagaimana tidak, beliau adalah cahaya di atas cahaya (nuron faaqo kulla nuur).
- Nabi Muhammad SAW tidak dihinggapi lalat. Al-Qadhi ‘Iyadh – dalam Asy-Syifa – dan Al-‘Azafi – dalam maulidnya – menyebutkan: “Di antara keistimewaan Nabi Muhammad SAW itu adalah beliau tidak dihinggapi lalat”. Ibn Sab’ menambahkan dalam Al-Khashaa-is, “Diantara keistimewaan Rasulullah SAW adalah kutu rambut tidak mampu menyakitinya.”
- Darah beliau adalah suci. Al-Bazzar, Abu Ya’la, At-Thabrani, Al-Hakim, Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair bahw ia pernah mendatangi Rasulullah SAW ketika ia sedang berbekam. Setelah selesai berbekam, beliau bersabda: “Hai Abdullah, pergi dan bawalah darah ini lalu tumpahkanlah di tempat yang tidak ada siapa-siapa.” Ternyata ia meminumnya. Setelah ia kembali (kepada Rasulullah SAW), Rasulullah SAW bersabda: “Hai Abdullah apa yang engkau perbuat?” Ia menjawab: Aku letakkan darah itu di suatu tempat yang menurutku pasti tidak diketahui orang.” Rasulullah SAW bersabda, “Atau mungkin kau meminumnya?” “Ya” Jawab Abdullah. Ia bersabda, “Kecelakaanlah bagi manusia dari (sebab) kamu. Dan kecelakaanlah bagi kamu dari (sebab) manusia. Mereka tidak melihat kekuatan yang ada padanya (Abdullah) dari (karena) darah itu.”
- Mata Rasulullah SAW tidur tapi hatinya tidak. Beliau bersabda, “Mataku tidur tetapi hatiku tidak tidur.” (HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik ra)
- Rasulullah SAW terpelihara dari mimpi berjimak. Beliau bersabda, “Tidak ada seorang nabi pun mimpi berjimak (ihtilam). Sesungguhnya ihtilam itu dari setan.” (HR Thabrani)
- Air seni Rasulullah SAW adalah suci. Diriwayatkan oleh Al-Hasan bin Sufyan, dalam musnadnya, juga oleh Abu Ya’la, al-Hakim, Ad-Daruquthni, dan Abu Nu’aim dari Ummu Aiman yang mengatakan: “Nabi SAW bangun malam, lalu mencari kendi pada sudut rumah. Beliau buang air kecil padanya. Aku pun bangun malam dalam keadaan sangat haus. Maka aku memimun air yang ada dalam kendi itu. Di pagi hari aku beritahukan hal itu kepada Nabi. Beliau tertawa seraya bersabda, “Kamu tidak akan merasa sakit perut setelah hari ini untuk selamanya.”
Dan banyak lagi keistimewaan Nabi SAW lainnya yang tidak dapat disebut secara keseluruhan. Berikut adalah ringkasan mengenai keistimewaan Nabi Muhammad SAW yang disusun oleh sebagian ulama dalam bentuk nazham:
Nabi kita diistimewakan dengan sepuluh sifat
Ia tidak pernah berihtilam sama sekali
Tak ada padanya bayangan
Bumi menelan apa yang keluar darinya
Begitu pula lalat enggan mendekat
Kedua matanya tertidur, hatinya tak mendengkur
Terlihat olehnya apa yang ada di belakang seperti ia memandang
nya dari depan
Tidak pernah menguap, sifat yang ketujuh
Diikuti sifat lain, ia terkhitan ketika lahir
Binatang mengenalinya ketika ia menaikinya
Mereka datang dengan cepat tak pernah mengelak
Posisi duduknya melebihi posisi duduk sahabatnya
Allah melimpah shalawat kepadanya, pagi dan sore hari.
Kunjungi: www.fauzirosid.blogspot.com
Minggu, 03 Januari 2010
BERTANYA KEPADA ORANG YANG MENGERTI AL-QURAN DAN AS-SUNNAH
- Ulama yang memiliki ilmu tentang Allah, atas perkenan-Nya, dan juga
- Mengamalkan ilmu itu semata-mata demi mencari keridhaan-Nya;
- Ulama yang berzuhud dalam kehidupan dunianya, yakni hatinya tidak terpaut dengan dunia;
- Ulama yang tidak pernah dilalaikan oleh perdagangan apapun dari mengingat Allah;
- Uama yang berdakwah (menyeru) kepada Allah dengan hati yang sadar dan
- Ulama yang disingkapkan bagi mereka rahasia-rahasia-Nya
Namun pada masa sekarang di seluruh persada bumi ini sungguh amat sulit menjumpai walaupun hanya satu orang saja dari mereka. Sampai-sampai beberapa dari kalangan tokoh penting berani menyatakan bahwa ahludz dzikri itu kini sudah tidak ada. Akan tetapi yang benar adalah bahwa mereka itu pasti ada, namun Allah SWT telah menyelubungi mereka dengan kekuasaan-Nya dan menyembunyikan mereka dari pengetahuan manusia, disebabkan kelalaian orang-orang khusus dan berpalingnya orang-orang awam. Maka barangsiapa yang bersikap tulus dan sungguh-sungguh mencari mereka, insya Allah akan menjumpai, paling sedikit, seorang dari mereka. Sebab ketulusan adalah laksana pedang amat tajam yang bila ditetakkan atas sesuatu pasti memotongnya. Pada hakikatnya bumi ini tidaklah akan kosong dari seorang 'qaim lillaahi bihujjah (penegak hujjah Allah). Rasulullah SAW pernah bersabda:
Selalu akan ada sekelompok dari umatku yang tetap membela kebenaran (Agama), tidak teralangi oleh siapa pun yang menentang mereka sampai datangnya saat ketentuan Allah.
Mereka itulah bintang-bintang bumi, petugas-petugas pembawa amanat, wakil-wakil al-Musthafa (Nabi SAW), dan pewaris para nabi lainnya. Semoga ridha Allah atas mereka dan mereka pun ridha sepenuhnya akan Tuhan mereka. Merekalah Hizbullah (kelompok yang dekat dengan Allah) dan sesungguhnya Hizbullah adalah orang-orang yang berjaya.
Jumat, 25 Desember 2009
BERPEGANG PADA QUR'AN DAN SUNNAH
Hendaknya Anda selalu berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah, sebab kedua-duanya adalah (inti) agama Allah yang benar dan jalan-Nya yang lurus. Siapa saja berpegang erat-erat pada keduanya, akan selamat dan beruntung, dan siapa saja menyimpang dari kedua-duanya akan sesat dan bisana. Maka jadikanlah kedua-duanya sebagai pemerata jalanmu serta kendali hidupmu.
Kembalilah kepada kedua-duanya dalam segala urusanmu demi mematuhi wasiat Allah dan Rasul-Nya seperti tercantum dalam firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan dan taatilah Rasul-Nya dan para pemimpinmu yang berasal darimu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisa, 4:59)
Dan telah bersabda Rasulullah SAW:
Kuberpesan kepada kalian dengan sesuatu yang bila kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian takkan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan sunnahku.
Maka bila Anda ingin selalu berada di jalan kebenaran yang tak ada kebengkokan dan keraguan padanya, ukurlah selalu niat, akhlak, perbuatan, dan ucapanmu dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Ambillah apa saja yang bersesuaian dan tinggalkan apa saja yang bertentangan dengan kedua-duanya. Dan bertindaklah dengan hati-hati dan ikutilah yang terbaik selalu.
Jauhi Bid'ah
Jangan berbuat hal-hal yang diada-adakan (bid'ah) dalam agama dan jangan mengikuti selain jalan kaum mukminin, sehingga Anda tidak mengalami kerugian di dunia dan akhirat, sebab itulah kerugian senyata-nyatanya. Hindarkanlah dirimu dari bid'ah serta pendapat-pendapat yang saling bertentangan. Rasulullah SAW telah bersabda:
Setiap sesuatu yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan.
Dan telah bersabda pula SAW:
Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam agama kita ini, maka perbuatannya itu tertolak.
Bid'ah terbagi atas tiga macam:
- Bid'ah Hasanah (yang berupa kebaikan), yang dicontohkan oleh para imam yang benar dan yang bersesuaian dengan Al-Kitab dan Sunnah, yakni ditinjau dari segi pengutamaan segala sesuatu yang paling tepat, paling bermanfaat dan paling baik. Contohnya, pengumpulan Al-Quran dalam satu mushaf (dalam bentuk kitab) seperti dilakukan oleh sayidina Abu Bakar, atau pencatatan Diwan (daftar tunjangan rakyat) serta salat Tarawih seperti dilakukan oleh sayidina Umar, atau tambahan azan pertama pada hari Jum'at seperti dilakukan oleh sayidina Utsman, atau hukum memerangi kaum bughat (yakni kaum pemberontak) seperti dilakukan oleh sayidina Ali - semoga Allah merahmatinya bersama ketiga khalifah sebelumnya -.
- Bid'ah Madzmumah (tercela) - dalam pemahaman kezuhudan dan qana'ah - semata-mata, seperti sikap kurang mengekang diri dalam berpakaian, makan dan perumahan yang hukumnya mubah.
- Bid'ah Madzmumah (tercela) secara mutlak, yaitu hal-hal yang bertentangan dengan nash-nash Al-Kitab dan as-Sunnah atau melanggar ijma (kesepakatan) umat.
Para penipu seperti itu hanyalah berhasil melakukan tipuan-tipuan mereka itu terhadap orang-orang awam yang dungu, yakni mereka yang diliputi keraguan dalam ibadah mereka kepada Allah SWT. Adapun orang-orang berakal dan berpikiran sehat pasti benar-benar mengerti bahwa jenjang perbedaan antara sesama kaum mukminin dalam kedekatan dengan mereka kepada Allah SWT ialah sesuai dengan jenjang perbedaan antara mereka dalam hal mengikuti jejak Rasul SAW. Makin sempurna seseorang mengikuti beliau, makin sempurna pula kedekatannya kepada Allah dan makin besar ma'rifatnya tentang Allah.
Diriwayatkan bahwa Abu Yazid Al-Busthami pernah hendak mengunjungi seseorang yang dikenal sebagai seorang wali. Ia duduk di masjid seraya menunggu kedatanganya. Namun ketika muncul, dilihatnya orang itu berdahak dan membuang dahaknya di dinding masjid. Segea Abu Yazid pulang sebelum sempat duduk bersamanya seraya berkata, "Bagaimana orang seperti itu dapat dipercaya dalam memegang rahasia-rahasia Allah sedangkan ia tidak berpegang pada adab-adab syari'at?"
Dan telah berkata Al-Junaid (rahimahullah): "Semua jalan tertutup kecuali bagi siapa yang mengikuti jejak Rasul SAW."
Dan berkatalah Sahl bin Abdullah (rahimahullah): "Tiada penolong kecuali Allah, tiada penunjuk jalan kecuali Rasulullah, tiada bekal kecuali takwa dan tiada amal kecuali tekun dan sabar di dalamnya."